Situs Ndalem Pojok Kediri Gelar Ruwat Agung Soekarno, Gaungkan Kembali Jati Diri Bangsa untuk Wujudkan Asta Cita

Situs Ndalem Pojok Kediri Gelar Ruwat Agung Soekarno, Gaungkan Kembali Jati Diri Bangsa untuk Wujudkan Asta Cita

Loading

KEDIRI – Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, menjadi pusat peringatan momentum bersejarah pergantian nama Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia dari Koesno menjadi Soekarno melalui kegiatan budaya bertajuk Ruwat Agung Soekarno, Minggu (14/6/2026). Kegiatan tersebut digelar secara khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan sejarah Bung Karno sekaligus upaya membangkitkan kembali nilai-nilai jati diri bangsa.

Acara yang diinisiasi oleh pengelola Situs Ndalem Pojok bersama Perkumpulan Instruktur Penggiat Jati Diri Bangsa (PIPJATBANG) itu dihadiri berbagai elemen masyarakat. Turut hadir Brigjen Pol. Langgeng Purnomo selaku Ketua Dewan Pengarah PIPJATBANG, jajaran Forkopimda Kabupaten Kediri, para Kapolres jajaran Polda Jawa Timur eks Polwil Kediri, tokoh lintas agama, budayawan, serta masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap sejarah dan budaya bangsa.

Ketua Panitia Pelaksana, R.M. Kushartono, menjelaskan bahwa Situs Ndalem Pojok memiliki nilai historis yang sangat penting dalam perjalanan hidup Bung Karno. Menurutnya, di tempat itulah nama Soekarno diberikan kepada Koesno oleh Raden Mas Mendung atas restu sesepuh agung Raden Mas Panji Somohatmojo.

Kushartono menegaskan bahwa penyelenggaraan Ruwat Agung Soekarno tidak hanya bertujuan mengenang sejarah, tetapi juga menjadi momentum refleksi kebangsaan. Ia berharap kegiatan tersebut mampu membangkitkan kembali karakter, mentalitas, dan semangat nasionalisme yang diwariskan Bung Karno kepada generasi penerus bangsa.

“Melalui Ruwat Agung ini kami ingin memulihkan kembali karakter dan mentalitas jati diri bangsa yang mulai memudar. Kami berharap dapat membangkitkan kembali jiwa Soekarno di dalam sanubari generasi muda demi menyongsong Indonesia Emas 2045 dan mengantarkan bangsa ini sebagai Imam Perdamaian Dunia,” ujar Kushartono.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Doa Pangruwatan Bangsa yang dipimpin para tokoh lintas agama. Selanjutnya peserta mengikuti Kirab Jati Diri yang mengarak Tumpeng Keselamatan sebagai simbol persatuan dan harapan bangsa. Prosesi berlanjut dengan Panglukatan atau penyucian patung Soekarno, peresmian monumen perubahan nama Koesno menjadi Soekarno, penandatanganan prasasti, hingga pementasan teatrikal bertajuk Kembang Jagad.

Dalam kesempatan tersebut, Brigjen Pol. Langgeng Purnomo menyampaikan pesan kebangsaan yang menitikberatkan pada pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai Tri Sakti Bung Karno, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Menurutnya, ketiga prinsip tersebut masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan global saat ini.

Brigjen Langgeng menilai bahwa situasi geopolitik internasional yang semakin kompleks menuntut setiap negara untuk memperkuat kepentingan nasionalnya. Indonesia, kata dia, perlu memperkuat kemandirian ekonomi melalui semangat gotong royong nasional agar mampu mewujudkan kedaulatan politik yang bebas dari pengaruh asing.

Ia juga menyoroti implementasi misi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada swasembada pangan, energi, air, teknologi, dan hilirisasi industri. Menurutnya, seluruh program tersebut akan berjalan optimal apabila didukung oleh masyarakat yang memiliki kesadaran kuat terhadap jati diri dan budaya bangsa.

Lebih lanjut, Brigjen Langgeng mengingatkan adanya dampak negatif globalisasi dan budaya kapitalisme yang dapat memicu lahirnya sifat-sifat destruktif seperti keserakahan, iri hati, dan kedengkian. Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut berpotensi merusak moral, hukum, budaya, hingga stabilitas keamanan nasional.

Mengambil filosofi dari lagu Indonesia Raya, ia menegaskan pentingnya semangat “Bangun dan Membangun”, yakni membangun jiwa dan raga bangsa Indonesia secara seimbang. Membangun jiwa berarti memperkuat karakter bangsa dan membentengi diri dari pengaruh budaya asing yang merusak, sementara membangun raga diwujudkan melalui pembangunan di berbagai sektor kehidupan.

Menutup sambutannya, Brigjen Langgeng menegaskan bahwa kembalinya bangsa Indonesia kepada jati diri yang berkepribadian dalam kebudayaan merupakan fondasi utama dalam mewujudkan kedaulatan politik dan kemandirian ekonomi. Dengan semangat tersebut, Indonesia diyakini mampu melangkah menuju cita-cita besar menjadi mercusuar sekaligus imam perdamaian dunia yang membawa manfaat bagi peradaban global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *